jepang, parenting, pregnancy

Melahirkan Normal di Jepang! ~Hadiah Terindah di Awal Tahun~

31 Desember 2019 tengah malam ~ 1 Januari 2020 dini hari

Kemudian saat pengecekan pintu rahim berikutnya, alhamdulillah pintu rahim terbuka sempurna dan bidannya bersiap-siap untuk proses lahiran. Kursi bersalinnya dinaikkan, bagian kakinya dibuka lebar. Suami disuruh berdiri di bagian kepala dan diminta bidan untuk membantu mengangkat kepalaku saat ngedan.

Begitu ada perintah boleh ngedan dari bidan, disitulah baru ngedan dan dorong bayinya sekuat tenaga. Kalau dipikir-pikir, ngedannya itu lebih ke rasa “ngedan untuk ngeluarkan sesak BAB yang tak tertahankan”😅. Alhamdulillah aku masih bertenaga dan dengan ngedan beberapa kali, bayiku lahir pada 1 Januari 2020 pukul 03:20 pagi!❤️👶Bidan yang bantuin ada 3 orang dan mereka sampai kaget karena cepat bayinya keluar. Salah satu dari mereka bilang “nggak kayak ngelahirin anak pertama”😅

Tali pusatnya dipotong, bayinya dilap sedikit dengan handuk, lalu dibawa ke atas perut/dadaku untuk digendong. Sampe nangiiiissss…. terharu dong abis ngelewatin segitu banyak cobaan nahan sakit akhirnya ketemu dengan si baby 💏 Bayinya kemudian dibawa sama bidannya lagi untuk ditimbang, diukur, dan dibersihkan lagi, terus bidannya ambilin foto kami bertiga sekeluarga💕

Lahir pada 1 Januari 2020 pukul 03:20 dengan berat kurang lebih 2,700 gr, panjang 49 cm

Setelah itu dokter kandungannya datang untuk jahit luka dan cek plasenta. Sebelum treatment, bidan meminta suami untuk pulang istirahat dan kembali lagi di jam besuk (di RS aku jam besuk antara jam 3 sore sampai 8 malam).

Aku nggak di perineal section (digunting bagian antara vagina dan anus untuk memperluas jalur keluar bayi) karena alhamdulillah bayinya keluarnya lancar, namun luka sedikit karena terdorong kepala bayi. Setelah semua treatmentnya selesai, bidan bantu aku ganti baju ke piyama lain dan aku disuruh istirahat dan tetap berada di ruangan bersalin selama kurang lebih 2 jam sebelum pindah ke kamar rawat. Disitu terasa lega banget akhirnya perjuangan selesai🙂

Uncategorized

Melahirkan Normal di Jepang! ~Kontraksi di Akhir Tahun~

Mendekati akhir tahun di kehamilan 38w, aku mulai merasakan sakit di area perut namun masih dengan interval yang tidak teratur. Rasa sakit ini disebut dengan “false labor pain” atau bahasa Jepangnya 前駆陣痛 (zenku jintsuu), yang artinya “kontraksi palsu”. Aku pakai aplikasi penghitung interval kontraksi “Jintsuu Kita Kamo” untuk deteksi intervalnya karena ada case dimana kontraksi palsu berubah jadi kontraksi beneran, dan aku harus menghubungi RS kalau intervalnya sudah 10 menit.

Data interval kontraksi pakai aplikasi “Jintsuu Kita Kamo”

Aplikasi ini bisa dishare sama pasangan, jadi dua-duanya bisa lihat real time.

30 Desember 2019, pukul 22:00

Intervalnya sudah 6-7 menit, aku menelepon RS dan diminta untuk segera datang dengan membawa semua keperluan untuk melahirkan dan rawat inap (pakaian dll). Aku segera menelepon “Jintsuu Taxy“, layanan taksi khusus untuk ibu hamil yang mengalami kontraksi (perlu registrasi data diri terlebih dahulu, jadi lebih baik untuk segera registrasi jauh-jauh hari) untuk mengantar aku dan suami ke RS. Beberapa perusahaan taksi menyediakan layanan Jintsuu Taxy ini dan perusahaan taksinya beda-beda tergantung area.

Sesampainya di RS, aku disuruh ganti pakaian ke piyama RS dan mengenakan celana dalam melahirkan yang namanya 産褥ショーツ (sanjoku shootsu / puerperant panties). Celana dalam ini wajib dipakai sama ibu hamil yang mau melahirkan supaya dokter/bidan/perawat mudah melakukan pengecekan rahim.

Setelah itu aku masuk ruangan kontraksi. Ruangan kontraksi ini adalah ruangan dimana si ibu berada sampai pintu rahim terbuka seluruhnya (10 cm). Jadi di ruangan inilah aku menahankan sakit kontraksi😭Beberapa kali pindah ke ruangan melahirkan yang berada tepat di depan ruangan kontraksi untuk dicek kondisi bukaan pintu rahim. Sakit juga saat si perawat/bidan memasukkan jarinya dalam sampai menemukan pintu rahim kemudian jarinya berputar-putar untuk menghitung perkiraan bukaan rahim. Sudahlah menahankan sakit kontraksi, menahankan sakit pemeriksaan bukaan juga 😄

Karena keluarga nggak boleh menginap, jadi setelah memastikan kondisiku, suami pulang ke rumah dan kembali keesokan harinya.

31 Desember 2019 pagi menjelang siang

Suami datang ke RS dan membantuku melewati setiap gelombang kontraksi. Semakin lama kontraksinya semakin kuat dan semakin menyakitkan😭Untuk mempercepat bukaan, memperkuat kontraksi, juga merelaksasi supaya kontraksinya lancar, RS menyediakan air panas yang ditetesi aroma untuk merendam kaki 2 kali. Siangnya sudah bukaan 5, kemudian sore ke malam sudah bukaan 7. Diperkirakan akan lahir di hari itu.

Di bukaan 5, aku ngerasain keinginan untuk mengedan, lebih tepatnya ngerasain seperti ingin buang air besar yang tak tertahankan 😅Tapi masih nggak boleh ngedan karena belum bukaan sempurna. Kalau ngedan sebelum terbuka sempurna 10cm, bisa menyebabkan pintu rahimnya bengkak yang bikin pemulihannya lama. Nah menahankan nggak boleh ngedan ini luar biasa susah. Aku melewatinya dengan menekan kuat bokong dan kedua tumit ke tempat tidur, sambil menggenggam erat (dan kuat banget) pagar tempat tidur. Aku mesti menahankannya selama kurang lebih 50 detik dan luar biasa banget lah pokoknya, dalam kepala cuma “segera lah ini berakhir”😭 Pas ada suami, aku minta dia tekan daerah anus dengan bola tenis supaya nggak ngedan, ini adalah metode di Jepang untuk nahan ngedan, jadi bola tenis atau bola golf adalah salah satu item yang penting banget saat ngelewatin kontraksi.

Aku nahankan sakit kontraksi itu dengan duduk, karena kalau tiduran dan mencoba tidur trus tiba-tiba kontraksinya datang, aku ngerasa lebih sakit. Namun ternyata itu bikin badanku dan si bayi capek, yang menyebabkan tadinya udah bukaan 7, tapi bayinya naik lagi ke rahim dan jadi bukaan 5. Jadinya jauh lagi untuk lahir di hari itu.

Malam sekitar pukul 7 atau 8 malam (nggak gitu ingat, aku bahkan nggak tepikir lagi siang-malam, jam dll), pihak RS menyuruh suami pulang untuk istirahat dan akan menelepon suami kalau mendekati persalinan. Selama suami nggak ada, perawat dan bidan yang secara teratur datang mengecek kondisiku. Beberapa kali juga nurse call karena nggak kuat nahan ngedan. Lalu saat pengecekan pintu rahim di ruangan bersalin (di atas kursi bersalin) sekitar pukul 10 atau 11 malam, proses bukaannya lancar dan mungkin akan segera lahir, jadi RS nelpon suami untuk segera datang. Semakin mendekati persalinan, nahan ngedan makin menyakitkan, aku nggak sanggup nggak bersuara nyaris teriak. Suami bantu menekan anus dengan bola tenis dan perawat bantu arahkan pernapasan, supaya aku lebih rileks dan nggak terbawa sama sakitnya.

Lanjut ke post berikutnya yaaa