Sering dengar kan ya kalau lagi hamil ada aja yang di-idamin.
Waktu trimester pertama kemarin, aku ngidamnya makanan Medan yang pedasnya nendang. Sekarang lebih ke desserts, dan belakangan pengen banget makan pancake.
Di Jepang, ada pancake yang terkenal banget (sampai ngantri loh!), namanya “shiawase na pancake”. Pancakenya tebal dan lembuuuttt banget. Satu porsi isi 3 pancake. Menunya macam-macam, mulai dari pancake normal, pancake dengan hot chocolate, pancake tiramisu dll. Harganya bervariasi mulai dari sekitar 1,100 yen sampai 1,480 yen.
Shiawase na pancake with hot chocolate dan tapioca milk tea
Kebetulan di dekat rumah ada salah satu cabangnya, jadi ngajakin suami kesana. Antriannya lumayaann.. sekitar 20 menitan. Namanya juga cafe terkenal wkwkwkw
Kali ini aku pesan pancake dengan hot chocolate. Ya ampun enaaakk banget!! Aku sampai nggak sadar tau-tau uda habis hahahaha
Dalam bahasa Jepang, “shiawase” artinya “bahagia” (happy) dan bener banget, makan pancakenya bikin happy!!💕
Hot chocolate nya yg ngelumer, krispi roasted beans, dan fluffy sweet whipped cream
Shiawase na pancake ini ada beberapa tokonya di Tokyo. Kalau lagi jalan-jalan ke Tokyo, mesti nih kesini! Search aja di google “Shiawase na Pancake”, nanti pasti langsung keluar toko terdekat dari lokasi kamu ^^
Aku tuh sukaaa banget dengan produk-produk Jepang, kualitasnya bagus dan sesuai banget dengan yang dibutuhkan. Di Jepang itu saking praktis dan nyamannya, kita bisa nemuin produk apa aja untuk bikin semuanya lebih praktis. Name it! and you will find it in Japan!
Tentunya ada banyak banget produk-produk yang ditujukan untuk kemudahan dan kepraktisan ibu hamil. Apa aja sih ituuu?
※ Produk yang aku ceritain disini adalah yang beneran aku punya dan aku pakai sendiri.
Karena perutnya membesar, jadi biasanya ibu hamil itu jadi sulit untuk menemukan posisi yang pas untuk tidur, apalagi yang biasanya tidur menghadap ke atas (ke langit-langit), wah kalau udah hamil nggak bisa lagi karena malah bikin sesak (^.^”) apalagi tidur tengkurap (makin nggak mungkin wkwkwkwk), jadi biasanya ibu hamil tidurnya miring kiri atau miring kanan (kalau informasi di Jepang baiknya miring ke kiri, karena di kanan ada saluran darah yang kalau kejepit nanti bisa menurunkan tekanan darah gitu).
Nah dengan guling hamil ini, miring kiri kanan pun posisinya nyamaaaann banget. Guling ini di-desain khusus untuk ibu hamil, jadi bener-bener dibuat dengan mempertimbangkan posisi terbaik dan ternyaman si ibu hamil. Bentuknya seperti bulan sabit, jadi bisa menyangga dari kepala sampai kaki. Dipeluknya nyamaaann banget lah pokoknya, top! Terus di bagian tengahnya ada bagian yang membulat gitu, itu untuk daerah perut, jadi kalau bagian yang membulat itu kena ke perut jadi nyaman dan berasa “save” gitu loh.
Aku belinya di toko online khusus maternity dan menyusui, linknya ada di caption foto di atas. Harga gulingnya bervariasi mulai dari 6,000an yen sampai 9,000an yen deh kayaknya. Aku punya guling yang organik, sekitar 9,000an yen gitu kalo nggak salah dan itu partner tidur banget dah! Malah kadang suamiku pengen pake juga dia hahahaha. Terus ini gulingnya bisa dicuci lho.
Celana hamil dan baju dress
Wah ini mah salah satu yang WAJIB ada selama hamil. Biasanya baju dress yang paling umum kan yaa.. bahannya biasanya airy dan loose gitu jadi enak banget dipake, nggak kencang di badan, apalagi kalau lagi hamil itu kan asli risih dan sesak banget kalau pake pakaian yang nggak longgar-longgar. Biasanya aku pakai dress ini di rumah atau pas keluar rumah (casual occasion). Tapi penting banget punya celana hamil. Karena bisa dipadupadan dengan pakaian yang kita punya kan.. dan kalau mau check-up itu menurutku lebih gampang kalau pakai celana, jadi praktis buka tutup perutnya (untuk USG).
Celana hamil uniknya adalah di bagian pinggangnya, yang terbuat dari karet elastis yang nyaman dan nggak nyesak. Bisa dipakai sampai hamil tua nanti. Bahannya juga ngikutin musim. Kayak musim panas gini, bahannya biasanya yg airy kayak polyester atau sifon dan katun, trus stylenya itu kekinian banget, nggak ketinggalan zaman lah pokoknya. Pakaian ibu hamil disini fashionable banget. Ada juga celana skinny jeans, celana crop (yang untuk kerja) versi untuk ibu hamil, kalau bagian pinggangnya ketutup dengan baju, nah keliatan kayak celana biasa gitu. Kereeennn…
Di Jepang ada baju maternity ini bisa dibeli di toko yang jual produk ibu dan anak seperti Akachan honpo, nishimatsuya, inujirushi dll. Toko onlinenya juga ada macam-macam, kayak wowma (yang di caption foto), milk tea, dll.
Aku biasanya beli pakaian hamil di Akachan Honpo, itu yang paling dekat dari rumah dan lengkap banget mulai dari keperluan ibu hamil sampai keperluan bayi (popok, stroller dll). Harga celana ini sekitaran mulai dari 2,000 yen sampai 5,000an yen.
Kalau dress, aku biasa beli dress normal biasa yang bukan khusus maternity. Aku pikir, dress kan nggak mesti yang maternity wkwkwkwk jadi aku beli dress biasa di GU atau Uniqlo, yang bisa dipake casual sehari-hari.
Belt Hamil
Belt ini kayaknya aku cuma pernah liat di Jepang (kayaknya di Indonesia adanya cuma korset dan cuma untuk setelah lahiran). Di Jepang jenis belt jenisnya ada macam-macam banget dan bermacam brand. Belt ini ada yang bisa dipakai dua-duanya, selama hamil dan setelah melahirkan, karena saat mau melahirkan, belt ini adalah salah satu item yang mesti dibawa ke rumah sakit dan belt ini akan langsung dipake habis lahiran.
Sumber : Pigeon Japan
Belt ini fungsinya apa siihh??
Kalau lagi hamil, belt ini bantu untuk kurangi rasa sakit punggung karena perut yang semakin berat dan juga memperbaiki postur tubuh dengan membantu mencegah/mengurangi distorsi pinggul, karena katanya, kalau lagi hamil, pinggulnya jadi lebih mudah distorsi.
Kalau setelah hamil, belt ini bantu untuk menutup lagi tulang pinggul yang terbuka karena melahirkan, jadi untuk membantu si tulang pinggul ini kembali ke posisi semula yang juga berefek nantinya sama postur tubuh si ibu setelah melahirkan.
Biasanya belt ini dibeli sama ibu-ibu hamil di Jepang dibulan ke-5 kehamilan karena dibulan ke-5 itulah yang perutnya udah lebih besar, udah keliatan “ibu hamil”. Selain itu di Jepang ada budaya ke kuil untuk memohon kemudahan persalinan di “hari anjing” dibulan ke-5 kehamilan. Kenapa? karena anjing dikenal dengan kemudahannya dalam melahirkan. Nah saat ke kuil itu biasanya mereka akan bawa belt gitu untuk “didoakan”.
Variasi belt hamil
Variasinya ada banyaakk banget disesuaikan dengan kebutuhan si ibu. Mulai dari belt normal yang main lepas -pasang kayak foto di atas, sampai belt yang menyatu sama celana dalam maternitynya (jadi nggak susah lepas-pasang). Masuk di bulan ke-5 kehamilan, aku sama suami langsung beli belt lepas-pasang seperti foto di atas (karena belt ini yang nantinya dibutuhkan setelah lahiran) dan belt yang menyatu sama celana dalam, jadi kalau pakai pakaian formal, beltnya nggak membentuk ke baju.
Kalau pakai belt ini, lebih terasa nyaman gitu kalau lagi jalan kaki.
Dua minggu kemudian, aku kembali ke dokter untuk pemeriksaan kedua. Kali ini suami juga ikut mendampingi. Alurnya masih sama seperti pemeriksaan pertama, diawali dengan pengambilan air seni, tekanan darah, dan berat badan. Ternyata ini adalah pemeriksaan wajib yang setiap kali mesti diambil datanya.
Masih sama seperti pemeriksaan pertama, kali ini juga diawali dengan naishin. Kali ini detak jantungnya terdengar lebih jelas dan kencang, jadi dokter mengeluarkan instruksi untuk mengambil Buku Kesehatan Ibu dan Anak. Alhamdulillah… 🙂
Kali ini biayanya 3,500an yen. Nggak tau kenapa lebih murah dari yang pertama hehehe…
Jadi, setelah dari dokter, kami langsung ke balai kota. Disitu kami mengisi formulir registrasi kehamilan, lalu diberikan Buku Kesehatan Ibu dan Anak beserta berbagai flyer dan brosur yang informasinya penting banget, mulai dari seminar ibu dan ayah yang diadakan gratis dari pemerintah (untuk mengedukasi ibu dan ayah tentang kehamilan dan perawatan bayi begitu lahir nanti), sampai buku panduan perawatan bayi.
Berikut adalah foto Buku Kesehatan Ibu dan Anak beserta kupon pemeriksaan kehamilan.
Buku Kesehatan Ibu dan Anak dari kota Saitama
Seperti yang sudah aku sampaikan di post sebelumnya, di Jepang pemeriksaan kehamilan nggak dicover sama asuransi, jadi semuanya mesti bayar full. Nah tentunya biayanya mahal dan jadi beban kan.. Karena itu dari pemerintah disediakan kupon seperti ini untuk meringankan biaya pemeriksaan kesehatan selama kehamilan. Biasanya untuk jatah 14 kali pemeriksaan, biaya kuponnya bervariasi tergantung pemeriksaannya, mulai dari 3,000an yen sampai 8,000an yen (kalau biayanya lebih banyak dari itu, kita mesti tambah, tapi nggak banyak kok. Jadi Alhamdulillah banget).
Tentang Kafein..
Aku tuuh sukaaaa banget kopi. Aku sukanya cafe latte atau cafe au lait, sehari nggak minum tuh rasanya gimanaaa gitu.. Biasanya sehari paling banyak juga minumnya 2 gelas. Tapi ya itu, terlalu banyak mengkonsumsi kafein juga nggak bagus kan untuk bayinya.
Menurut informasi dari situs Wakodo (Wakodo ini adalah salah satu perusahaan produk makanan bayi di Jepang),
Katanya, kafein dapat menghambat pertumbuhan bayi, jadi konsumsinya paling tidak 1 hari coffee cup 1-2 cangkir saja, atau ganti ke yang decaffeinated (non-kafein).
Jadi aku beli beberapa teh dan kopi yang non-kafein atau caffeine-less seperti berikut :
Decaffeinated biji kopi Starbuck
Dari beberapa kopi non-kafein/caffeine-less yang aku coba (agak sedikit strict kalau tentang kopi wkwkwkwk), biji kopi starbucks house blend ini yang menurut aku paling enak. Biasanya kopi non-kafein rasanya itu lebih ke “asam” daripada ke “pahit”, aku sukanya yang “pahit”. Naahh si biji kopi starbucks ini lah yang menurutku masih ada rasa “pahit”nya. Dicampur susu dan sedikit gula enak bangeeeetttt… Minumnya pun 1 hari biasanya hanya 1 kali.
Mugi-cha (barley tea), non kafein dan mengandung banyak mineral. Isinya banyak banget dan harganya juga terjangkau, satu pack ini hanya 200-300 yen aja. Rooibos tea, ini adalah teh favoritnya ibu-ibu hamil di Jepang. Rasanya enak dan segar, non kafein dan mengandung polifenol. Satu pack ini harganya sekitar 500-800 yen.
Biasanya kedua teh ini aku masukkan masing-masing ke wadah/botol air minum (air biasa, bukan air panas), diamkan semalam di dalam kulkas, baru diminum. Aku paling suka terutama Rooibos Tea ini, enak! Tehnya bisa diminum kapan aja tanpa batasan jumlah.
Di awal bulan Mei 2019 ini, aku yang nggak pernah terlambat haid sekalipun, tiba-tiba terlambat 3 hari. Jadi di hari ke-3 dari hari seharusnya pertama haid, aku coba tes dengan testpack dan terlihat garis dua namun masih separuh jelas separuh blur. Aku yang “hm??”, masih setengah percaya setengah enggak. Lalu aku keluar toilet dan mencari tempat yang lebih terang untuk memastikan, dan ternyata memang garis dua walau masih belum jelas banget. Tapi itulah, aku masih nggak percaya dengan penglihatanku sendiri, lalu aku panggil suami untuk sama-sama nge-judge bener apa enggak.
Garisnya masih blur
Suami begitu lihat hasil testpack langsung tersenyum sumringah, “Aya chan!!!”. Lalu dia mengambil testpack itu dari tanganku dan menunjukkannya pada Ibu mertua yang sedang main ke rumah (kebetulan saat itu Golden Week di Jepang, ada libur panjang 10 hari, jadi ibu mertua berlibur kesini). Lalu ibu mertua juga “Yak! Yacchann!! Aya chan!!” dengan mata berbinar-binar.
Tapi karena masih sedikit blur, jadi aku kan masih ngerasa betul apa enggak gitu kaann.. Jadi di hari ke-5, aku coba lagi dan alhamdulillah lebih jelas garisnya >< Alhamdulillaaahh!!!
Garisnya sudah kelihatan jelas
Biasanya kalau sudah hasil testpacknya positif, biasanya dalam beberapa hari kemudian langsung ke dokter kandungan untuk cek betul hamil atau enggak dan ngecek letak kantung bayinya normal apa enggak (karena ada yang letak kantungnya itu di tempat yang tidak normal, misalnya di tube valopi dll). Tapi karena sekali periksa bisa kena biaya 5,000 – 10,000 yen (tergantung rumah sakitnya, perkiraan biayanya aku liat dari referensi forum ibu hamil di Jepang gitu). Nah daripada nanggung, jadi aku tunggu dulu sampai dua minggu kemudian, maksudnya supaya sekalian cek detak jantung bayinya.
Selagi menunggu kira-kira dua minggu itu aku dan suami cari-cari informasi tentang rumah sakit terdekat, yang aksesnya mudah, fasilitas dan layanannya bagus, dan yang ada dokter perempuannya. Alhamdulillah din dekat rumah ada klinik bersalin yang dari review ibu-ibu lain sangat baik, jadi aku dan suami memutuskan untuk kesitu. Apalagi kalau di Jepang, kita harus segera memutuskan di rumah sakit mana kita akan melahirkan, nggak bisa di waktu yang mendadak gitu karena ada kemungkinan dokternya atau rumah sakitnya full.
Dua minggu kemudian, aku cek ke dokter kandungan sama suami (suami ambil cuti). Pertama kali, aku disuruh cek berat badan, cek tekanan darah, dan cek air seni. Lalu perawat memberikan beberapa pertanyaan mulai dari jenis pekerjaan (untuk tahu apakah pekerjaan ibu hamil berat atau enggak, jadi dokternya nanti bisa kasi advise gitu), pola hidup dll.
Kemudian saatnya dipanggil ke ruangan dokter kandungan. Saat itu yang menangani adalah dokter kandungan laki-laki yang sudah cukup berumur. Beliau ini baik sekali dan senang banget ngobrol mengetahui aku orang asing. Sepertinya dokter itu senang dengan sesuatu yang berbau luar negeri atau internasional ^^.
Nah tentang pemeriksaannya, aku pikir kan dicek lewat USG perut seperti di Indonesia. Nah ternyata kalau di Jepang, pemeriksaan hamil muda itu awalnya adalah lewat USG vagina. Jadi kita duduk di kursi kayak kursi melahirkan gitu lalu kursinya dimiringkan sehingga kita menghadap ke langit-langit dan bagian kursi yang menyangga paha membuka lebar. Cek lewat USG vagina ini bahasa Jepangnya “naishin“. Tujuannya adalah karena ukuran bayi dan kantung bayi masih sangat kecil, jadi kalau USG perut nggak keliatan jelas, jadi di Jepang supaya lebih pasti hasilnya dan lebih tepat pengecekannya, semua melalui metode naishin ini.
Tapi jangan takut, kita nggak akan berhadapan langsung dengan si dokter dengan posisi seperti itu karena ada gorden yang menjadi pembatas antara kita dan dokter, jadi nggak terlalu malu lah… hehehe
Selagi aku di ruangan naishin, suami yang tadinya di ruangan pemeriksaan disuruh tunggu di luar sebentar sampai aku selesai.
Jadi setelah di posisi yang tepat, si dokter memasukkan USG yang bentuknya seperti pipa ke dalam vagina. Kita juga bisa mengecek prosesnya melalui monitor yang tersedia di dekat kita. Alhamdulillah saat itu sudah kelihatan janinnya walau masih keciiiiiiillll banget! Mungkin 0,xxxxx mili (>.<) jantungnya udah berdetak dan keliatan kelap kelip gitu di monitor. Selagi di naishin gitu, dokternya akan jelasin ini bagian apa, janinnya dimana dll. Trus sempat dikasi dengan bunyi detak jantung bayinya juga. Alhamdulillahh… terharu banget…. Detak jantungnya cukup keras dan cepat.
Habis naishin, kembali ke ruangan pemeriksaan, suamiku sudah diperbolehkan masuk dan sedang nunggu aku disitu. Lalu dokternya kasi penjelasan sambil nunjukin foto hasil USG naishin nya. Walaupun detak jantungnya sudah bisa dikonfirmasi betul, namun karena janinnya masih kecil banget, jadi dokternya belum bisa kasi instruksi ke aku dan suami untuk ambil Buku Kesehatan Ibu dan Anak (yang kita dapat kalau kita hamil) karena dia mau cek sampai detak jantung bayinya betul-betul kuat dulu. Jadi, dokternya minta kami datang dua minggu lagi.
Paling tidak, sudah dipastikan kalau aku hamil.. aku dan suami terus senyum-senyum hehehehe
Nah untuk biayanya, biaya cek kehamilan di Jepang nggak dicover sama asuransi karena bukan termasuk penyakit, jadi seluruh biayanya itu ditanggung sendiri. Untuk pemeriksaan pertama ini aku bayar 7,000 yen.
Pemeriksaan kedua di dua minggu berikutnya akan aku ceritakan di post berikutnya yaaa 🙂